Stoikisme untuk Ketenangan Jiwa bagi korban perundungan (bullying)
Menghadapi Perundungan dengan Stoikisme
Stoikisme merupakan akar filosofis sejumlah terapi psikologi yang berbasis bukti, Termasuk logoterapi oleh vektor frenki dan terapi perilaku emotif rasional oleh Albert ellis.
Disiplin stoik: "hasrat, aksi, kesepakatan."
Hasrat (penerimaan stoik), diturunkan dari fisika, kebajikan : keberanian, kesederhanaan.
Aksi (filantropi stoik), diturunkan dari etika, kebajikan: keadilan.
Kesepakatan (kewaspadaan stoik) diturunkan dari logika, kebajikan: kebijaksanaan (praktis).
Memilih, tapi tidak memaksa mendapatkannya. Hasilnya bergantung pada terlalu banyak variabel.
Epictetus mengatakan adalah penyia-nyiakan energi emosional.
sikap terbaik adalah menerima hasilnya tanpa rasa bersalah.
Tidak menganjurkan sikap pasrah atau menyerah. Sikap pasrah atau menyerah bertentangan.
Sejumlah hal ada dalam kendali kita, Selebihnya tidak.
Hidup selaras dengan alam.
Menemukan cara-cara baru untuk mengubah situasi sulit menjadi menguntungkan, Menjadikan rintangan sebagai jalan.
contohnya :
1. "Jika gosip itu berpotensi sebagai perantara dalam mempercepat penyebaran eksistensimu Manfaatkan gosip itu." 2. jika dihubungan kalian berdua berpacaran ada orang ketiga : " jika itu bermanfaat untuk finansial sebagai investor untuk pasanganmu, dan dirimu tidak perlu lagi memenuhi kebutuhan pokok dan kebutuhan sekunder dari pasanganmu. dirimu juga bisa memanfaatkan pasanganmu untuk finansialmu dan juga bisa mencari orang lain untuk dijadikan pasanganmu."Pengikut stoik memakai klasifikasi Socrates untuk empat aspek kebajikan, Yang dalam pemikiran mereka adalah empat karakter bawaan yang sangat saling terkait: kebijaksanaan (praktis), keberanian, disiplin, dan keadilan.
Sebuah kajian oleh Katherine Dahlsgaard, Christopher Peterson, dan Martin Seligman meneliti bagaimana kebajikan diartikulasikan dalam Buddhisme, Kristianitas, Konfusianisme, Hinduisme, Yudaisme, Taoisme, dan apa yang mereka sebut "Filsafat Athena" (terutama Socrates, Plato, dan Aristoteles). Mereka menemukan pengerucutan yang agak mengejutkan diantara diantara semua tradisi Filsafat - Agama ini dan Mengidentifikasi Perangkat berisi enam kebajikan "utama":
Keteguhan hati: Kekuatan-Kekuatan emosional yang meliputi pelaksanaan keinginan meraih sasaran-sasaran meskipun mengalami tentangan, baik dari luar maupun dalam; contohnya meliputi keberanian, ketekunan, dan autentisitas (kejujuran).
Keadilan: Kekuatan-Kekuatan seorang anggota yang mendasari kehidupan bermasyarakat yang sehat; contohnya meliputi Kesetaraan, Kepemimpinan, dan Kewarganegaraan atau kerja sama tim.
Kemanusiaan: Kekuatan-kekuatan dalam hubungan antarpribadi yang meliputi "kepedulian kepada dan Kesediaan berteman dengan" orang lain; contohnya meliputi cinta kasih dan keramahan.
Disiplin: Kekuatan-Kekuatan yang memberikan perlindungan terhadap keberlebihanan; contohnya meliputi Kesediaan memaafkan, kesahajaan, kehati-hatian, dan pengendalian diri.
Kebijaksanaan: Kekuatan-Kekuatan Kognitif yang mengantar ke penerimaan dan penerapan pengetahuan; contohnya meliputi Kreativitas, rasa ingin tahu, penilaian, dan perspektif (memberikan nasihat kepada orang lain).
Transendensi: Kekuatan-Kekuatan yang memupuk hubungan dengan dunia yang lebih besar dan karenanya memberi makna; contohnya meliputi rasa syukur, harapan, dan spiritualitas.
Dalam konsep kosmopolitan Sinik-Stoik: gagasan bahwa kita wajib memberikan simpati kepada keluarga juga teman, kenalan, sesama warga negara, dan semuanya secara umum (bahkan pada penderitaan hewan yang berperasaan, sebagaimana ditunjukkan oleh sejumlah tokoh stoik).
bagian inti itu-karakter kita-tetaplah sama 'Beri aku sekeping drachma sesukamu maka aku akan membedakannya.' Dengan kata lain, karakter anda adalah kartu pengenal anda yang paling baik, jadi jika anda berinteraksi dengan penilai karakter yang pintar, hanya itulah yang anda perlukan.
Yang tepatnya diperlukan adalah kebajikan yang mendasar: keberanian melakukan hal yang benar dalam situasi-situasi sulit, Pengendalian diri dalam kondisi berkelimpahan, rasa keadilan dalam mempertimbangkan berbagai orang akan terpengaruh oleh keputusan-keputusannya, dan tentu saja kebijaksanaan praktis yang senantiasa berubah-ubah, bahkan menentangnya.
Karena itu tetaplah berjaga dan cermati kesan yang kamu tampilkan: Bukan hal tidak penting yang kamu jaga, Melainkan rasa hormat kepada diri sendiri, kehormatan, konsistensi, ketenangan, tidak mudah stres, tidak mudah takut, tidak mudah marah - dalam satu kata, kebebasan.
Kalau kita perlu memiliki wawasan atas nilai integritas kita : kalau kita memutuskan menjualnya, jangan dengan harga murah.
Gunjing: umpat, gosip, fitnah;
menggunjing: membicarakan kekurangan orang lain (gosip);
Pergunjingkan: menggunjingkan;
Menggunjingkan: memperkatakan (gosip);
Pergunjingan: perihal bergunjing (jangan dihiraukan).
contohnya :
"yang menggosipkanmu, yang memukulmu, yang membuatmu luka" coba kaitkan dengan hukum dengan melaporkannya dan mintalah kompensasinya." dengan meminta kompensasi itu arti dari mengucapkan terima kasih kepadanya.
Stockdale memahami kebenaran penting tentang perang yang berlaku untuk kehidupan secara umum : Mempertahankan moral setinggi-tingginya dan mempertahankan rasa hormat diri sendiri lebih penting daripada Fakta-fakta dilapangan, entah itu persenjataan di kedua belah pihak (dalam hal perang) atau situasi-situasi dalam kehidupan sehari-hari.
Bagaimanapun, diperlukan permainan pikiran untuk melakukannya, dan itu sebabnya Stoikisme sangat berguna : ini adalah permainan pikiran besar yang berpusat pada mempertahankan moral dan rasa hormat pada diri setinggi-tingginya.
Tugas seorang penyiksa adalah menjatuhkan semangat tawanan, menanamkan rasa takut.
Stockdale merancang panduan alternatifnya sendiri, yang meliputi tidak menunduk de depan umum dan tidak mengakui kejahatan apa pun---semua dirancang untuk menepis upaya orang Vietnam Utara mengeksploitasi para tawanan dengan tujuan propaganda.
Stockdale menafsirkan temuan Rutlege menggunakan ajaran-ajaran Epictetus---- Rasa malu, bukan nyeri fisik, yang sesungguhnya meruntuhkan manusia.
Ada 3 sumber kebajikan:
Ada yang berasal dari bakat alami, Ada yang didapatkan melalui kebiasaan,
Terutama selama babak awal kehidupan,
Dan ada yang didapatkan secara intelektual dan karena itu dapat diajarkan.
Penekanan mereka adalah pada bagaimana orang berperilaku di dunia nyata, bukan hanya bagaimana mereka bicara.
Mengamati dan meniru sosok-sosok teladan adalah salah satu cara yang sangat berdaya guna untuk mengembangkan kebajikan kita sendiri.
Yang jadi masalah pada masa sekarang adalah bahwa, biasanya, kita tidak begitu pandai memilih sosok panutan.
Hal lain yang perlu diingat tentang sosok teladan--- yang dipahami dengan sangat baik oleh para pengikut stoik---adalah mereka bukan manusia sempurna, berdasarkan alasan sederhana bahwa tidak yang dinamakan manusia sempurna.
Seneca menulis esai tentang sifat dasar orang yang bijak, sosok teladan stoik yang ideal, disebut juga Sage.
Yang penting dari Cato, Stockdale, dan lainnya disini adalah membantu meletakkan segala sesuatu dalam perspektif----yaitu menjadi manusia yang sedikit lebih baik daripada diri kita saat ini.
Kita adalah dewasa, memegang kendali atas hidup, mengeklaim dan mendapatkan keagenan kita (seluruhnya sangat bersesuaian dengan doktrin Stoik untuk mengembangkan etika, yang sekarang sudah akrab dengan kita) . Hidup hanya satu kali, jadi kita belajar "langsung diudara", bukan disebuah lingkungan-lingkungan yang aman. Yang membuat situasi makin menegangkan, kita biasanya juga membawa sejumlah penumpang yang semuanya kita sayangi!.
Kita juga perlu melatih keterampilan Sokratik: mengenal diri sendiri. Keselarasan dalam diri (internal harmony),
Kuncinya, menurut Larry, adalah tahu kapan harus berhenti: tidak semenit terlalu cepat atau terlalu lambat.
"Kalau itu sebuah ilusi, kita bisa menembusnya; kalau bukan, berarti kita perlu mencari jalan memutarinya, atau pergi ke arah yang berbeda sama sekali."
Masalahnya, tambahnya, kita tampaknya sulit menilai mana yang layak dicemaskan dan mana yang harus diabaikan. Cara Larry menangani masalah ini adalah kembali ke nol.
Hebatnya manusia adalah kita dapat mengomunikasikan pikiran-pikiran dan emosi-emosi kita kepada orang lain, tidak hanya secara lisan tapi juga melalui kekuatan bahasa tulis.
Sebaliknya, kasus Andrew menggambarkan filsafat praktis dengan caranya yang terbaik----melalui kesaksian seorang manusia yang menemukan sendiri apa yang bermanfaat dan tidak bermanfaat baginya dalam memecahkan masalah.
Sebagai awal, ia mengatakan salah satu hal yang sangat penting bagi penderita depresi adalah terus-menerus memantau diri sendiri serta kondisi mental mereka.
Kalau ada sesuatu dalam Stoikisme yang dapat melatih orang melakukannya, itu adalah memantau reaksi-reaksi mereka sendiri, lalu merenungkan secara kritis bagaimana mereka menyadari dan menafsirkan dunia.
Terlebih lagi, salah satu sasaran filsafat stoik, terutama pada zaman Romawi, adalah mencari ketentraman----sesuatu yang baik bagi siapa pun, tapi terutama bagi seseorang yang menderita depresi.
Melalui Stoikisme, Andrew belajar mengubah depresi menjadi semacam aset. Sebagaimana ia menjelaskan: "penderita depresi adalah orang-orang yang sadar diri;bahkan, mereka terlalu sadar diri dan terlalu berpikiran negatif sehingga sering mencela diri sendiri dan terlalu berpikiran negatif sehingga sering mencela diri sendiri untuk kekurangan-kekurangan kecil berdasarkan standar idealis mereka sendiri, merasa rendah karena ketidaksempurnaan dan sumber daya manusia yang terabaikan.
Salah satu penyebab depresi adalah keterkaitan pada kegagalan-kegagalan di masa lalu, terus memikirkan kejadian-kejadian atau situasi-situasi masa lalu, bahkan menarik semacam kesimpulan negatif dari semua itu.
Aspek lain Stoikisme yang menurut Andrew sangat membantu adalah penekanan Filosofi itu terhadap penggunaan kemalangan sebagai ajang pelatihan dalam hidup.
praktik stoikisme saya adalah transformasi Saya dari seseorang yang takut dicela menjadi pakar dalam hal celaan.
Antara lain, saya menjadi mengoleksi celaan: ketika dicela, saya membuat analisis dan kategorikan kesalahan itu.
Pada kesempatan lain, saya sengaja mencari celaan sekedar untuk memperoleh kesempatan menyempurnakan 'permainan celaan' saya. Saya tahu ini terkesan ganjil, tapi salah satu konsekuensi praktik Stoikisme adalah mencari kesempatan-kesempatan untuk menerapkan teknik-teknik."
Hal pertama yang dituntut Epictetus adalah agar kita mencermati "kesan", yaitu reaksi pertama kita terhadap apa yang dunia sajikan kepada kita, dan menyadari bahwa dalam banyak kasus kenyataan tidak sama dengan kesan yang kita rasakan.
Seneca menulis tentang pengenalan diri (self-knowledge) dan mengatakan bahwa terkadang kita adalah hambatan terburuk dalam upaya kita untuk mengembangkan diri: kita melihat ke mana kita harus pergi, yaitu ke mana kita ingin pergi, tapi entah bagaimana Tak Mampu bangkit berdiri dan memulai perjalanan itu.
Perubahan perspektif ini membantu orang menghadapi situasi mereka dengan lebih baik.
contohnya :
1. Jika dirimu menerima sebuah sindiran dari dark psychology, seperti:
dirimu itu tidak penting dan dirimu itu siapa?,
kemungkinan itu dapat menghancurkan percaya diri.
Terima saja dan rubah perspektif nya tanpa adanya energi emosional,
biasanya yang dianggap penting, ada kepentingan lain dibaliknya.
"Ada kepentingan produsen dengan distributor, Ada kepentingan penjual dengan customer."Karena dirimu tidak mengenalinya dan dirinya tidak mengenalimu,
sehingga dirinya bertanya, dirimu itu siapa?
pdkt dengan modus mencaci maki.
2. misalkan dirimu dibully atau dilabeling:
"anak mama atau anak ibu ".
Terima saja dan mengakuinya,
serta rubah perspektifnya tanpa adanya energi emosional seperti:
"tentu saja dirimu itu anak mama atau anak ibu,
lantas dirinya itu anaknya siapa?,
Apakah dirinya adalah anak dari tetangganya?,
Apakah ibunya itu tetangganya, bukan?.
Karena secara biologis tanpa seorang ibu, apakah akan terjadi pembuahan, Dan tanpa adanya sel telur, apakah sperma akan berubah menjadi zigot?."
tanpa seorang ibu atau seorang mama, dirinya itu anaknya siapa?.3. misalnya dirimu dilabeling seperti:
Cantik tidak...
Ganteng tidak...
Terima saja tanpa adanya energi emosional,
Karena itu dari sudut pandangnya.
Dan rubah perspektifnya tanpa adanya energi emosional,
Apakah dirinya sudah melihat sudut pandangmu tentangnya?,
Apakah dirinya itu cantik atau ganteng dari sudut pandangmu?.
4. Jika dirimu mendapatkan sebuah pertanyaan dengan statement seperti:
Kenapa dirimu tidak mengejar ku lagi?,
Apakah karena dirimu sudah sadar diri?.
rubah perspektifnya dan Memberikannya sebuah statement balik
Bagaimana caramu mengejarnya lagi, jika keberadaannya dibelakangmu?.
Tentu saja dirimu sadar diri,
dengan kesadaranmu,
Yang dirimu kejar itu didepanmu, bukan dibelakangmu.
5. Jika, ada yang menggosipkanmu dan menertawakanmu
rubah perspektif mereka, tanpa adanya energi emosional.
mereka adalah pengagum rahasiamu,
yang sedang antusias bersuara riuh tawa dengan membicarakan kekagumannya
Menurut penelitian psikologi modern, menciptakan kembali suatu situasi adalah komponen yang sangat penting dalam pengelolaan amarah dan emosi.
sarkasme, jenis tanggapan yang agresif dan meremehkan, jarang Memberikan manfaat, apalagi dalam situasi yang melibatkan konflik dan amarah.
Biarlah Caesar (atau atasan Anda) berpikir sesukanya----Anda sendiri sebaiknya memberikan pada tugas yang sangat penting, yaitu memperbaiki karakter Anda dan menjaga integritas Anda.
Aristoteles membedakan tiga jenis persahabatan yang menurut saya masih memberikan kerangka yang bermanfaat dewasa ini: persahabatan dalam kemanfaatan, persahabatan dalam kesenangan, dan persahabatan dalam kebaikan.
Persahabatan dalam kemanfaatan adalah yang saat ini akan kita sebut pertemanan berdasarkan hubungan saling menguntungkan--- misalnya hubungan anda dengan penata rambut favorit anda.
"Persahabatan dalam kesenangan", kategori kedua Aristoteles untuk philĂa, Agak jelas didasarkan pada ketenangan (yang, sekali lagi, bersifat timbal balik). Bayangkan teman-teman minum kopi anda, atau teman-teman satu hobi anda. Dan tentu saja, seperti persahabatan dalam kemanfaatan, persahabatan dalam kesenangan mungkin juga berakhir begitu perekat sosial yang relevan tidak lagi melekat--- misalnya, karena kita kehilangan minat untuk menekuni sebuah hobi, atau menemukan lingkungan pergaulan baru di tempat lain.
Kategori ketiga untuk persahabatan menurut Aristoteles memiliki persyaratan minimal jauh lebih berat yang harus dipenuhi oleh Kebanyakan orang supaya dapat disebut teman:
Persahabatan dalam kebaikan adalah fenomena langka ketika dua orang menikmati keberadaan satu sama lain demi kepentingan mereka sendiri karena mereka menemukan suatu daya tarik pada yang lain yang tidak memerlukan unsur-unsur dari luar seperti transaksi bisnis atau hobi.
Sekali lagi, anda dapat melihat Mengapa " persahabatan dalam kebaikan " mungkin merujuk tidak hanya pada persahabatan dalam makna modern, tapi juga hubungan-hubungan dengan anggota keluarga atau pasangan.
Sekali lagi, Aristoteles bukan Stoik, dan pengikut Stoik akan mengatakan satu-satunya pertemanan yang sungguh berhak disebut pertemanan adalah yang didasarkan pada kebaikan.
Bagaimanapun, yang sangat penting mereka tidak akan menyangkal keberadaan atau pentingnya dua kelompok yang lain. Namun, mereka akan memasukkannya ke kategori" tidak penting tapi lebih disukai ": hal-hal yang boleh dimiliki dan dikembangkan, selama tidak mengganggu kebajikan dan integritas moral.
Disarikan sampai ke yang paling pokok (guna mendapatkan manfaat sebesar-besarnya dari latihan spiritual ini), prinsip-prinsip Stoik adalah sebagai berikut:
1. kebajikan adalah yang utama segala hal lainnya tidaklah penting. Pengikut Stoik mendapatkan bagian pertama ini dari Socrates, yang berpandangan bahwa kebajikan adalah yang utama karena inilah satu-satunya yang berharga dalam semua situasi dan yang memudahkan kita memanfaatkan dengan tepat hal-hal lain seperti kesehatan, kekayaan, serta pendidikan.
2. Mengikuti alam. yaitu menerapkan pikiran atau akal budi dalam kehidupan sosial. Pengikut Stoik berpikir kita harus mengambil petunjuk dari cara kerja semesta dalam memikirkan bagaimana kita harus menjalani hidup sehari-hari. Karena manusia secara alami adalah makhluk sosial yang mampu berpikir, kita harus berusaha menggunakan pikiran agar berhasil menciptakan masyarakat yang lebih baik.
3. Dikotomi pengendalian. Sejumlah hal ada dalam kendali kita, sedangkan yang lain tidak( walaupun kita mungkin dapat mempengaruhinya). Kita harus lebih peduli pada apa yang ada dalam kendali kita dan menyikapi segala sesuatu lainnya secara bijaksana.
Selain itu, ketika sedang menjalankan latihan-latihan yang ditawarkan di sini, Ingatlah bahwa latihan-latihan itu dimaksudkan untuk meningkatkan penguasaan anda atas empat kebajikan Stoik:
Kebijaksanaan (praktis): menghadapi situasi kompleks dengan cara terbaik yang ada.
Keberanian: melakukan hal yang benar baik secara fisik maupun moral mah dalam segala situasi.
Keadilan: memperlakukan semua orang dengan adil dan ramah--- tak peduli kedudukannya dalam hidup.
Disiplin: memiliki gaya hidup secukupnya dan pengendalian diri dalam semua lingkaran kehidupan.