Pendidikan Karakter untuk perilaku dari seorang pelaku Perundungan (Bullying)
1. Sejarah Gagal Didik Karakter
Sesungguhnya bukan sejarahnya yang gagal. Namun cara berpikir kerdil, itulah tantangan terbesar kita.
Ada 3 cara berpikir :
1. Berpikir kerdil atau pikiran kecil :
membicarakan orang, yang akan menghasilkan gosip.
2. pikiran sedang :
membicarakan peristiwa, yang akan menghasilkan pengetahuan.
3. pikiran besar :
membicarakan gagasan, yang akan menghasilkan solusi.
2. Siapa Pantas Mendidik Karakter
orang pintar atau orang kaya bukan jaminan berkarakter. Pejabat atau pengusaha 'setali tiga uang'. Guru atau dosen lebih banyak yang hanya mengajar daripada mendidik.
Orang yang cerdas, yang kaya, yang punya kedudukan dan jabatan, banyak tidak tampak karakternya. Itulah yang jadi soal.
Semakin cerdas, semakin kaya, semakin tinggi kedudukan, ternyata semakin mematikan karakter.
Lebih-lebih bila terbetot pada pusaran 'merasa penting', 'merasa berbeda', dan 'merasa lebih hebat'. Merasanya itu yang menghambat diri untuk bermuhasabah.
Dalam kelupaan dan 'merasa serba lebih, inilah yang otomatis jadi penyebab character assassination. Pembunuhan karakter yang dilakukan diri sendiri.
Karena dilakukan sendiri pembunuhan karakter jadi tidak terasa, tidak tahu kapan dimulainya, dan juga tidak akan tahu kapan akan berakhirnya. Karena oleh diri sendiri pematian nilai-nilai karakter terjadi tanpa disadari, tapi langsung dan berjalan begitu lama.
Inilah pembunuhan karakter yang paling efisien dan efektif. Karena itu bangsa ini kebingungan harus berbuat apa dalam menangani krisis Indonesia yang seolah terperosok dalam sumur tanpa dasar.
Karakter mudah dibicarakan, yang siapa pun bisa membahasnya dengan piawai dan mempesona. Namun mendidik perilaku baik jadi karakter, bukan perkara mudah.
Perlu latihan yang tidak pernah mengenal batas akhir. Perlu menghancurkan ego dan nafsu manusia, yang di situlah titik krusialnya.
Serakah itulah faktor tersulit bagi pengusaha untuk antar dirinya bisa mendidik karakter. Semakin serakah, semakin tidak layak mendidik karakter.
Mendidik diri agar tidak serakah saja tidak mampu, bagaimana lagi pada orang lain.
Karakter punah atau tidak berdaya karena salah satunya akibat sifat tamak.
Pengusaha serakah hanya konsen pada bisnisnya. Berpikir untuk perusahaan lain agar tidak mati, apalagi memikirkan kemakmuran perusahaan lain tentu kegilaan.
Hidup tanpa karakter, membangun tanpa karakter, mendidik tanpa karakter.
Adakah pengusaha tidak serakah? Ada. Yang mana? Kita kesulitan melacak. Berapa jumlah yang tidak serakah? Kita tergagap menghitung.
Untuk bisa mendidik karakter, tiap orang harus mendidik dirinya dahulu. Tidak serakah misalnya, bisakah dipraktekkan untuk tidak menambah minimarket ritelnya yang sudah berjumlah ribuan. Jika tidak bisa dilakukan, sifat tidak serakah itu masih jadi nilai. Belum jadi perilaku.
Belum jadi perilaku, artinya belumlah berkarakter.
Maka bisakah yang serakah mendidik orang untuk tidak serakah. Bisakah pemarah mengajar orang sabar. Sanggupkah yang rusak mendidik orang agar jadi baik. mungkinkah pemalas mendidik orang lain jadi disiplin.
Ah karakter, karakter.
Untuk bisa mendidik karakter, tiap orang harus didik dirinya dahulu. Tidak serakah misalnya, bisakah dipraktekkan untuk tidak menambah minimarket ritelnya yang sudah berjumlah ribuan.
3. Guru Karakter
Karakter hanya bisa dididik, ditingkatkan dan disempurnakan terus-menerus. Kepada siapa? Kepada semua yang mendambakan proses penyempurnaan karakter.
Perilaku baik adalah karakter. Karakter itu merupakan asset berharga. Bahkan lebih penting dan lebih mendasar ketimbang asset lain.
Cerdas adalah asset. Tapi tanpa karakter, cerdasnya akan ngakali yang lain.
Jabatan merupakan asset. Tanpa karakter, jabatan bisa jerumuskan negara dalam utang dan obral murah asset negara.
Enterpreneurship adalah asset. Tanpa karakter, apapun akan dibisniskan hanya sekadar uang dan raksasakan kerajaan bisnisnya.
Professor adalah kehormatan. Tapi tanpa karakter, kehinaan yang didapat.
Karenanya tidak salah bila dikatakan 'karakter merupakan fondasi'. Apapun yang dibangun di atas karakter akan berkembang baik dan bermanfaat.
Pada bangunan, fondasi tampak nyata hingga harus ada. Semakin besar dan tinggi bangunan, semakin fondasi dibuat kokoh jadi penopang.
Malah banyak bangunan yang runtuh, tapi fondasinya tetap utuh tertanam.
Sedang pada manusia, karakter sebagai fondasi tidak tampak
Inilah yang jadi persoalan. Karena tidak tampak karakter terabaikan. Seolah tanpa fondasi, karakter bisa diperoleh dengan sendirinya.
Dengan pendidikan di sekolah dan perguruan tinggi, otomatis karakter bisa diperoleh. Dengan bekerja dan punya jabatan, dengan sendirinya karakter pun bakal terbina. Tanpa dibina pun sebagian besar manusia yakin bisa memperoleh karakter.
Tanpa fondasi, mustahil bangunan kokoh berdiri menjulang.
Begitulah manusia, tanpa fondasi perangainya akan mengubahnya bukan lagi manusia. Tapi monster.
Siapa yang berkarakter, semakin punya jabatan semakin bermanfaat.
Kecerdasan di atas karakter, ilmunya akan tambah berkembang karena dicerap banyak orang.
Orang kaya berkarakter, kekayaan itu akan tumbuhkan kekayaan di banyak orang hingga terus bertambah-tambah.
Pejabat berkarakter, jabatan akan menghasilkan kebijakan yang menyejahterahkan rakyat.
Pemimpin yang berkarakter, jelas, mengimbas pada kemaslahatan ke seluruh rakyat dan yang mencerap kepemimpinannya.
Ingat, kecerdasan bukanlah fondasi. Cerdas itu anugerah. Ada yang dapat, ada yang tidak dapat.
Sementara, sebagai kata kerja, karakter adalah sesuatu yang terus berproses dan tidak akan pernah berhenti. Karena ia tidak cukup diterapkan atau dididik, tapi juga harus dipahami.
Maka bisa disimpulkan, belajar karakter, bukanlah urusan formal. Ia merupakan gerak alami- universal.
Karakter bisa terpancar pada siapa saja yang hatinya bersih. Bukan yang berkuasa (saja), berpendidikan (saja), atau yang kaya (saja).
Kehidupan Anda akan mengantar cukup jernih untuk meresonansi karakter terbaik dari mana pun datangnya. Siapa pun, adalah 'guru karakter, dan kehidupan ini adalah universitas karakter.
Karakter merupakan fondasi'. Apapun yang dibangun di atas karakter akan berkembang baik dan bermanfaat.